Festival Bau Nyale Lombok Mengenang Putri Mandalika

Bicara tentang Lombok memang tidak ada habisnya. Dari wisata bahari, alam, religi, budaya, kuliner, hingga sejarah. Berbagai destinasi wisata di Lombok tidak ada hentinya memberikan pesona keindahannya sehingga menarik simpati Wisatawan setiap harinya untuk berkunjung. setiap destinasi wisata memiliki keunikan tersendiri untuk membedakannya dengan destinasi lain dan sebagai daya tarik Wisatawan untuk mengunjunginya. Wisatawan yang berkunjung berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan berbagai negara di dunia.

Namun dibalik itu semua, Pulau Lombok menyimpan berbagai sejarah yang patut untuk diketahui oleh Wisatawan. Sejarah yang terjadi bahkan diabadikan untuk memberi nama sebuah bangunan, tempat, hingga dirayakan sebuah acara sebagai tanda mengenang sejarah tersebut. Salah satu sejarah yang tersohor di Pulau Lombok adalah cerita Putri Mandalika. Legenda Putri Mandalika menjadi cerita yang terkenal di Pulau Lombok, hingga ada sebuah festival di Pulau Lombok yang sebagai salah satu acara untuk mengenang Putri Mandalika yakni Festival Bau Nyale.

Festival Bau Nyale Lombok
Para pencari nyale. Sumber IG @khirulsetiaku

Kerajaan Tunjung Bitu

Dahulu, di daerah pesisir selatan Pulau Lombok, terdapat sebuah Kerajaan yang aman dan sejahtera. Kerajaan tersebut bernama Tunjung Bitu yang dipimpin oleh Seorang Raja yang bijaksana bernama Paduka Raja bergelar Tonjang Beru. Raja Tonjang Beru memilik permaisuri yang bernama Dewi Seranting. Begitu bijaksananya Sang Raja Tonjang Beru memimpin kerajaan, semua rakyat merasa tentram, damai sejahtera. Hasil bumi melimpah ruah, Lumbung-lumbung penuh berisi cadangan makanan, tidak pernah terdengar adanya keluhan dari rakyat Tunjung Bitu.

Putri Mandalika

Mereka memiliki seorang anak yang berparas cantik yang diberi nama Putri Mandalika. Tampak jelas parasnya yang elok diwariskan dari ibunya Dewi Seranting. Putri Mandalika tumbuh menjadi seorang putri yang tidak hanya berparas cantik tetapi juga berkepribadian baik. Ini ditunjukkan dengan sifatnya yang baik, sopan, bahasanya lembut dan ramah kepada semua orang. Putri Mandalika tumbuh menjadi gadis remaja dengan kecerdasan, kepandaian, keelokan paras, yang utama budi pekertinya telah menjadi pembicaraan rakyat kerajaan Tunjung Bitu. Demikian mahsyurnya nama Putri Mandalika dengan segala pesonanya menyebar hingga ke seluruh penjuru Lombok dan daerah sekitarnya.

Memikat Pangeran dan Pemuda Lombok

Sebagai kembang yang sedang mekar, Putri Mandalika menarik kedatangan kumbang-kumbang.  Kecantikan Putri Mandalika membuat para Pangeran di berbagai kerajaan dan para Pemuda di Pulau Lombok memperebutkan Putri Mandalika. Mereka diyakini telah terpikat akan kecantikan Putri Mandalika. Hingga kemudian banyak para pemuda dan para pangeran banyak yang melamar sang Putri. Sebagai seorang putri Raja, urusan perjodohan bukanlah hal sederhana, akhirnya sang Raja menyerahkan keputusan tersebut kepada sang Putri sendiri.

Setelah itu, Putri Mandalika memutuskan bersemedi untuk mencari petunjuk dari apa yang terjadi. Sepulangnya bersemedi, Putri Mandalika mengundang seluruh Pangeran dan Pemuda pada tanggal ke 20 bulan ke 10 pada penanggalan Sasak. Putri mengundang semuanya untuk berkumpul di pantai Seger (atau dikenal pantai Kuta Lombok) pada waktu pagi buta sebelum Adzan Subuh berkumandang.

Hilangnya Putri Mandalika

Pada tanggal dan tempat yang telah diputuskan oleh Putri Mandalika, berkumpulah seluruh Pangeran dan Pemuda dan bahkan rakyat Kerajaan Tunjung Bitu. Seketika matahari mulai terbit, Putri Mandalika beserta Raja, Ratu, dan para Pengawalnya datang menemui seluruh undangan. Pada waktu itu Putri Mandalika terlihat sangat cantik dibalut dengan busana indah yang terbuat dari sutera. Putri Mandalika beserta Pengawalnya naik ke atas bukit Seger dan mengucapkan beberapa patah kata yang ditujukan oleh seluruh tamu undangan.

Festival Bau Nyale Lombok
Cacing laut atau Nyale. Sumber IG @khirulsetiaku

Isi ungkapan Putri Mandalika kurang lebih berisi bahwa Putri Mandalika hanya ingin melihat ketentraman dan kedamaian di Pulau Lombok tanpa adanya sedikitpun perpecahan di dalamnya. Sang Putri menyadari jika dia menerima satu atau sebagian lamaran akan terjadi perpecahan atau perselisihan diantara mereka yang tidak ia terima. Untuk itu sang Putri berencana menerima semua lamaran yang ditujukan kepadanya. Serentak seluruh tamu undangan yang terdapat di pantai tersebut bingung dengan perkataan Putri Mandalika.

Kemudian tiba-tiba sang Putri menjatuhkan dirinya ke dalam laut dan seketika hanyut ditelan ombak. Para rakyat dengan sigap menceburkan diri ke laut untuk menyelamatkan Putri Mandalika. Tetapi sang Putri hilang tanpa ada tanda-tanda sedikitpun. Tidak lama kemudian muncul binatang kecil-kecil yang yang sangat banyak dari laut. Binatang tersebut ternyata sebuah cacing panjang yang kemudian cacing tersebut diberi nama nyale dan dipercaya oleh masyarakat bahwa cacing tersebut merupakan jelmaan Putri Mandalika.

Festival Bau Nyale

Nyale adalah sebuah pesta atau upacara yang dikenal dengan Bau Nyale. Kata Bau berasal dari Bahasa Sasak yang berarti menangkap sedangkan kata Nyale berarti cacing laut yang hidup di lubang-lubang batu karang dibawah permukaan laut. Secara etimologis, Bau Nyale terdiri dari 2 suku kata, yakni “Bau” dalam bahasa Indonesia yang artinya menangkap dan “Nyale” adalah cacing lalu yang tergolong jenis filumannelida. Bau Nyale merupakan sebuah acara perburuan cacing laut. Acara ini diselenggarakan sekitar bulan Februari dan Maret. Tempat penyelenggaraan upacara Bau Nyale ini ada di Pantai Seger, Kuta. Terletak dibagian selatan Pulau Lombok dan dekat dengan destinasi wisata Bukit Merese Lombok.

Pelaksanaan Festival Bau Nyale

Penentuan kapan waktu pelaksanaan Festival Bau Nyale pun unik. Kemunculan nyale (cacing laut) ditentukan melalui ritual khusus yang dilakukan oleh Para Tetua dan Tokoh masyarakat setempat. Upacara tradisional Bau Nyale dilaksanakan pada hari ke-20 setelah bulan purnama di bulan ke 10 kalender suku Sasak.

Manfaat Nyale

Nyale yang sudah ditangkap di pantai biasanya akan ditaburkan di sawah, bahkan ada yang mengolahnya menjadi makanan. Menariknya, cacing laut atau nyale ini memiliki kandungan protein yang tinggi yaitu sebesar 43,84%. Lebih tinggi bila dibandingkan dengan kerang bulu (Anadara indica) dan kerang hijau (Perna viridia) yang hanya 18,5 %. Selain itu, nyale atau cacing laut ini berfungsi sebagai antibiotik.

Festival Bau Nyale Lombok
Masyarakat mencari Nyale sejak pagi. Sumber IG @sendi.a

Anda penasaran seperti apa kemeriahan dan keramaian Festival Bau Nyale Lombok, jangan lupa update informasinya setiap saat tentang pengadaan festival karena setiap tahun festivalnya diadakan. Berwisata ke Pulau Lombok sambil menghadiri Festival Bau Nyale tentu menjadi momen yang berbahagia dalam hidup Anda tentunya. Apalagi festival unik ini hanya bisa Anda jumpai saat berkunjung ke Pulau Lombok. Anda bisa mempercayakan transportasi wisata diLombok bersama PagiTrans, penyedia jasa sewa mobil Lombok terpercaya.

Leave a Comment

WhatsApp chat